Doha, Qatar Yang Mengesankan

Selasa



Doha, Qatar Yang Mengesankan

Keajaiban sering muncul tak terduga. Saya tak pernah mimpi untuk melancong ke Doha. Apa enaknya, pikir saya, bertamasya ke kota di tengah gurun pasir yang kurang populer dibanding tetangganya, Dubai dan Bahrain ini? Namun begitulah, beragam kebetulan justru memaksa saya menginap di Doha. Berawal dengan kerewelan mesin pesawat Qatar Airways dari Dubai menuju Jakarta, menjelang stop over di Doha.

Akibatnya? Pesawat terpaksa diganti, sebagian penumpang, termasuk diri saya, tidak bisa ikut terangkut. Artinya, harus rela untuk menunggu penerbangan lanjutan, 24 jam kemudian. "Menginap? Bagaimana mungkin, saya tidak punya visa untuk masuk Qatar?" Dengan tenang, Lolita, pramugari QR asal Filipina, langsung menukas, "Enjoy saja. Kunjungi Qatar, kami akan urus semuanya..."


Setelah semua prosedur imigrasi berlangsung, meluncurlah sekitar 20 penumpang yang tertunda terbang, meninggalkan bandara, menjelang dini hari diantar menuju Doha. Dengan perlahan, dari jendela bus tampak gemerlap ribuan lampu listrik dari tengah padang pasir. Sebentar kemudian, bagaikan dalam dongeng, dari balik kabut tebal, bermunculan bayangan yang makin lama semakin jelas, puluhan gedung pencakar langit.

Keberadaan Doha khususnya dan Qatar pada umumnya, memang bukan dongeng 1.001 Malam, ketika jin dan peri masih ke sana-sini, naik permadani terbang. Namun, dalam acara resmi penutupan pesta olahraga Asian Games XV yang lalu, legenda 1.001 Malam sengaja ditampilkan. "Apa itu salah? Justru akan kita buktikan, warga Qatar membangun dalam waktu sekejap, persis dongeng kuno," jawab petugas pelaksana pembangunan.

Selama ini, dalam perbincangan international, Qatar paling hanya dikenal karena menjadi pusat transmisi jaringan TV Al Jazeerah. Jaringan TV berita alternatif dari negara Arab yang tampil menjadi pesaing utama untuk mengimbangi monopoli berita tayangan CNN dan BBC.

Kemudian, Asian Games menjadi pemicu pembangunan. Inilah yang dipertaruhkan. Menyelenggarakan 39 jenis lomba antarbangsa, dihadiri ribuan olahragawan dari 45 negara yang harus ditayangkan secara langsung untuk melayani 1,7 miliar pemirsa di seluruh Asia. Jenis lombanya beragam: berenang, squash, rugby, olahraga berkuda, layar, catur, sepakbola. Singkat cerita, untuk bisa dilombakan, semuanya memerlukan lintasan dan lapangan khusus.

Tantangan tersebut dimulai enam tahun lalu, ketika Olympic Council of Asia bersama International Olympic Committee menunjuk Doha sebagai tuan rumah Asian Games XV Mengalahkan kota pesaing yang jauh lebih terkenal: Hong Kong, Kuala Lumpur, dan New Delhi. Kini, semuanya telah terjawab.

Stadion Khalifa, bangunan tahun 1976, segera dipugar total. Jadilah sekarang sebuah stadion tertutup multi lomba terbesar di dunia, dengan tanah lapang seluas 73.000 meter persegi. Dilengkapi Sports City yang mempunyai tujuh bangunan pertandingan serbaguna berikut kampung atlet internasional.

Namun, Qatar merancang semuanya dengan perhitungan bisnis. Segala macam pembangunan fasilitas olahraga Asian Games tersebut, setelah pasta perlombaan dimanfaatkan untuk menampung mahasiswa dari seluruh dunia yang studi di Academy for Sport Excellence. Bahkan, bekas perkampungan atlet, mulai awal 2007 ini sudah jadi penampung pasien Doha's Medical City. "Asian Games XV telah berakhir, tetapi warisannya masih lestari di hati masyarakat," kata Lolita, pramugari QR yang siang itu bertindak menjadi pemandu wisata pribadi.

Melancong ke Doha itu mengesankan. Apalagi sejak tiga tahun lalu, rakyat Qatar sudah merumuskan konstitusi baru yang menjamin kebebasan beragama, menyampaikan pendapat dan berkumpul. Kini Qatar bukan lagi kerajaan kuno dan konservatif. Konstitusi baru Qatar tetap mendasarkan diri kepada ajaran Islam dipadu dengan jaminan hak-hak asasi manusia yang universal.

Kenyataan tersebut mengantar masyarakat Qatari dalam kesetaraan gender. Tampak dengan terpilihya enam perempuan dalam lembaga perwakilan rakyat, mendahului peluang serupa di kawasan Teluk lainnya. Bahkan, posisi menteri, sejak tahun lalu, juga telah mulai dipercayakan kepada perempuan.

Keindahan Qatar bagaikan wajah seorang gadis molek yang masih tersembunyi di balik cadar. Negara ini memiliki garis pantai sepanjang 650 km. Selain itu hasil penelitian menunjukkan, kawasan di batas selatan padang pasir Arabia tersebut sudah dihuni manusia sejak zaman purba, ketika iklim setempat masih belum sepanas sekarang. Warisan budayanya juga sangat memikat, semisal Mesjid Abu Bakir Al Siddiq. Dilengkapi kokohnya benteng Al Zubara dan Al Koot, bukti strategisnya posisi Qatar, sehingga harus dipertahankan dari serbuan para perompak yang lalu lalang di sana.

Meski dulu kurang diperhitungkan, kekayaan cadangan minyak bumi yang terkandung di bawah padang gurun telah mengubah Qatar, negara dengan hanya 800.000 jiwa tersebut, menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Dilengkapi cadangan gas alam terbesar di dunia. Tidak mengherankan, GDP Qatar termasuk tertinggi di dunia, 30.000 dolar AS per kapita per tahun.

Tiba-tiba, Lolita mengingatkan, "Jangan lupa, kita harus ke Shahaniya." Ini lagu wajib untuk mereka yang serius bertamasya ke Qatar. Sebuah kawasan langka tempat Oryx, kambing gunung khas Qatar bermukim. Sebagai hewan khas, Oryx tampil jadi maskot Asian Games XV dan lambang Qatar Airways. Ajakan menonton kambing gunung segera saya ikuti. Mungkin karena dia pramugari QR, mungkin karena ingin menyepi ke padang pasir.

Artikel Lainnya



0 komentar to “Doha, Qatar Yang Mengesankan”

Bebas Berkomentar..