Yerusalem, Tempat Wisata 3 Agama

Sabtu



Yerusalem, Tempat Wisata 3 Agama


Mesjid the Dome of the Rock. (MANUH/THE EPOCH TIMES)
Mesjid the Dome of the Rock. (MANUH/THE EPOCH TIMES)
Shalom dalam bahasa Hebrew Yahudi berarti damai. Itulah kata selamat datang dan selamat tinggal-nya di Israel. Penulis berkesempatan mengunjungi beberapa tempat-tempat penting di Kota Tua Yerusalem. Kota yang merupakan konflik kepentingan dari Tiga agama dari zaman ke zaman.

Kota yang penuh kontroversi. Kesempatan untuk berkunjung juga tidak selalu ada walaupun Anda merencanakannya jauh-jauh hari. Ini berhubungan dengan eskalasi politik yang terjadi di kota ini. Begitu terpercik sedikit keributan antar etnis, kunjungan Anda akan dibatalkan. Atau salah satu dari tempat ibadah dari tiga agama Kristen, Yahudi dan Islam tertutup untuk umum bahkan untuk umatnya sendiri demi keamanan.

Waktu penulis berkunjung juga ada insiden kecil di Mesjid al Aqsa, sehingga ada pembatasan bagi turis yang beragama Islam untuk tidak mengunjungi mesjid. Hanya dibuka untuk warga setempat.

Yerusalem yang berarti The Holy (Yang Suci) dan berpenduduk 747.000 orang lebih adalah kota terbesar di Israel, baik dalam jumlah penduduk maupun luas wilayah. Kota ini juga dibedakan dalam dua bagian, Kota Tua dan Kota Baru. Sebenarnya keduanya tidak terpisah, Kota Tua adalah kota dalam kota, seperti Vatikan di dalam Kota Roma. Kota Baru dimana pemerintahan dan moderenisasi berpusat.

Pada Kota Tua yang dikelilingi oleh tembok tinggi layaknya kota-kota Romawi kuno. Tembok ini punya fungsi sebagai pertahanan kota dari serangan musuh. Ketinggian tembok juga dibuat sangat kokoh bahkan ada batu yang beratnya 100 ton, ketinggian tembok berkisar 5-15 meter, dengan 43 menara pengawas di titik-titik penting seperti pintu-pintu masuk dan di setiap sudut.

Kota Tua yang luasnya 0,9 km persegi yang terlihat dari kejauhan Bukit Zaitun seperti benteng. Penulis lebih sesuai menyebutnya bukit karena dari nama aslinya Mount Olive, ketinggiannya tidak seperti Gunung hanya 812 meter. Gunung Zaitun atau bahasa Hebrewnya Har Ha Zaitim atau bahasa arabnya Jebel az-Zeitun. Bukit Zaitun diasosiasikan dengan tradisi Kristiani dan Yahudi, karena banyak kejadian masa lampau yang tertulis dalam Injil dan buku Injil Hebrew Yahudi terjadi di sini.

Persis di lereng perbukitan ini adalah perkuburan Yahudi terbesar di dunia, dengan kurang lebih 150.000 kuburan. Dipercaya oleh mereka kalau mereka ingin ke surga harus terkubur di Mount Olive dekat dengan Yerusalem. Inilah pemberhentian kami yang pertama setelah satu jam perjalanan dari pelabuhan Ashdod, Israel.


Salah satu gerbang masuk ke Kota Lama Jerusalem. (MANUH/THE EPOCH TIMES)
Untuk memasuki Kota Tua ini, para wisatawan akan memulai dari Gerbang Jaffa (Jaffa Gate) di bagian barat tengah dari Kota, di mana ada sebelas pintu masuk tetapi sebagian ditutup, hanya tujuh gerbang yang dibuka. Gerbang-gerbang ini ditutup saat matahari terbenam dan dibuka lagi saat matahari terbit.

Keberadaan kota yang rentan dengan konflik ini, terlihat sangat mencolok dengan adanya petugas polisi dan tentara bersenjata di setiap sudut kota. Hal ini bisa dipahami karena Israel dan masyarakatnya punya kepentingan besar dalam bidang pariwisata. Keamanan adalah hal utama agar turis dan jemaah tetap bisa berkunjung. Utamanya Yerusalem merupakan pemikat utama dari Umat Islam, Kristiani dan Yahudi dari seluruh dunia untuk bisa menunaikan ibadah berjemaah di sini.

Lorong-lorong kecil layaknya gang, tetapi berlantai rapi dari batu-batu limestone merupakan kekhasan kota tua ini. Hampir semua bangunan menggunakan tembok dari batu seperti batu palimanan di Jawa Barat.

Sejarah Yerusalem sangat panjang, sebelum ditaklukkan oleh Raja Daud, Yerusalem adalah tempat tinggal etnis Jebusites. Kemudian diberi nama Kota Daud, anaknya Raja Salomo memperluas pembangunan tembok kota.

Kemudian kejayaan Kerajaan Islam Arab menguasai Yerusalem pada abad ke-7, di bawah pimpinan kalif Umar Ibn al-Khattab.

Di tahun 1099 Yerusalem dikuasai oleh tentara Kristiani Barat, 88 tahun kemudian, pada 1187 Muslim Arab pimpinan Saladin menguasai Yerusalem kembali, dan mengizinkan kaum Yahudi untuk menetap di kota ini.

Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai ulang 44 kali. Tembok yang ada sekarang dibangun 1538 pada zaman Kerajaan Ottoman Muslim di bawah Sultan Suleiman Agung. Temboknya memanjang sepanjang 4,5 km dengan ketinggian 5-15 meter. Dengan ketebalan 3 meter. Yang mana terdapat 43 menara pengawas.

Yerusalem sekarang di bawah pemerintahan Israel semenjak terjadinya perang enam hari di tahun 1967, dimana Jordania kalah perang dan harus menyerahkan semua wilayah Yerusalem. Keunikan lain dari Yerusalem yang hanya satu kilometer persegi ini adalah terbaginya wilayah ini menjadi empat wilayah etnis. Wilayah penduduk Muslim, Armenian, Yahudi dan Kristiani. Walaupun demikian tidak semua warganya hanya dari satu agama. Seperti di wilayah Muslim ada 60 keluarga Yahudi tinggal di sana. Peran utama Yerusalem bagi tiga agama ini punya akar yang mendalam.


Suasana lorong jalan di kota lama Jerusalem. (MANUH/THE EPOCH TIMES)
Bagi agama Islam ini menjadi tempat tersuci ketiga setelah Medinah dan Mekah. Dipercaya Nabi Muhammad naik ke surga dari ’Temple Mount’. Untuk mengingat tempat ini maka di sini dibangun mesjid Al Aqsa (Mesjid terjauh), dan mesjid ’Dome of the Rock’ dimana beliau menaiki Buraq terbang dari batu ini.

Western Wall atau Wailing Wall atau Tembok Ratapan merupakan Synagog terbuka bagi kaum Yahudi, merupakan tempat suci mereka, demikian juga Church of the Holy Sepulchre, merupakan Gereja bersejarah di mana diyakini Jesus disalib dan dikubur di sini. Gereja ini merupakan tempat Ziarah sejak abad ke-4 sampai sekarang.

Sebagai daerah wisata, aneka cindramata dari magnet, kerudung, peci dan peci kecil khas Yahudi juga dijual untuk para turis. Tempat yang dikunjungi ribuan pesiarah dan wisatawan ini, di satu sisi telah ikut menurunkan kesakralan dari Yerusalem. Karena kedua jenis pengunjung ini punya tujuan berbeda; peziarah ingin melakukan ritual agama sedangkan para wisatawan hanya ingin tahu, bersenang-senang dan mengabadikan dalam media foto dan mendapatkan souvenir.

Demi memberi perhatian, maka kepada setiap pengunjung baik peziarah atau turis akan diberi sertifikat ’Yerusalem Pilgrim’ yang ditandatangani oleh Walikota Yerusalem dan Menteri Pariwisata Israel.

Artikel Lainnya



0 komentar to “Yerusalem, Tempat Wisata 3 Agama”

Bebas Berkomentar..