Korea Utara

Jumat



Korea Utara


Masyarakat Korea yang tinggal di Korea Utara dan Selatan memiliki ciri-ciri khas Mongolia dan diyakini berasal dari satu kelompok ras yang sama. Bahasa Korea, yang merupakan bahasa nasional kedua negara tersebut, berkaitan dengan bahasa Jepang dan di dalamnya terdapat banyak kata-kata yang juga ditemukan dalam bahasa Cina. Sistem penulisan bahasa Korea menggunakan dua puluh enam simbol fonetik. 

Bagi masyarakat Korea pada umumnya, perpecahan itu bagaimanapun sangat menyakitkan. Berlainan dengan harapan para tokoh gerakan kemerdekaan Korea yang marak sejak 1 Maret 1919. Walau memerdekakan diri pada 15 Agustus menyusul kekalahan bala tentara Jepang pada tahun 1945, tetap itu tidaklah mengantarkan bangsa Korea ke pintu gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya. Negara-negara adidaya pemenang Perang Dunia II (Rusia, USA, Cina dan Inggis) sepakat, semenanjung Korea dijadikan daerah pengawasan mereka. Negara adidaya pemenang PD II itu lalu mengkavling semenanjung Korea menjadi dua bagian. 

Satu bangsa Korea, pada tahun 1948, menyatakan merdeka dalam dua negara: Korea Utara dan Korea Selatan. Maka lengkaplah sudah, dua ideologi besar, kapitalisme dan sosialisme mencabik semenanjung itu.

Pada tahun 1950, tentara Korea Utara, dengan didahului tank-tank buatan Rusia melancarkan serangan dahsyat ke Korea Selatan, mencetuskan perang Korea yang berlangsung hingga tahun 1953. Konflik yang menimbulkan kehancuran total itu berakhir setelah perjanjian gencatan senjata, yang menetapkan sebuah daerah penyangga militer yang saat ini membelah semenanjung Korea.



Korea sejak lama dikenal sebagai negeri yang memiliki panorama keindahan alam yang mempesona, pun memiliki kekayaan warisan budaya masa lalu yang mengagumkan. Di Korea orang bisa menyaksikan tiga buah harta benda nasional Korea paling berharga dalam daftar warisan kebudayaan dunia. 

Ketiga harta budaya Korea yang tak ternilai harganya itu adalah Kuil Pulguk bersama dengan candi goa Sokkuram yang terbuat dari batu pada abad ke-8 di Kyongju, Tripitaka Koreana abad ke-13 di kuil Haeinsa, Provinsi Kyongsang Selatan, dan Chongmyo, tempat persembayangan bagi keturunan leluhur raja pada masa kerajaan Chosun (1392-1910), yang terletak di ibukota Seoul Korea Selatan.

Akan tetapi, sumber yang lebih luas dan lebih mengesankan bagi bangsa Korea hanya dapat ditemukan pada pribadi masyarakatnya. Salah satu hal penting yang mendasari sikap hidup masyarakat Korea ialah ketaatannya pada tradisi. Yakni tradisi masyarakat Korea yang merupakan perpaduan antara Samanisme, Budha dan utamanya Kong Hu Chu.

Tradisi tersebut pada diri bangsa Korea tercermin pada kecintaan akan perdamaian, kehangatan keluarga, keselarasan lingkungan, keharmonisan sosial, dan penghargaan kepada leluhur, tanpa menapikan pula unsur-unsur baik budaya Barat.

Salah satu konsep yang sangat kuat pada seluruh lapisan masyarakat Korea ialah saling kerja. Di Korea terkenal dengan sebutan Saemaul Undong. Satu konsep yang telah menjadi gerakan nasional dengan menekankan rasa kesatuan dan keterpaduan sosial.

Secara resmi, Undang-Undang Korea Utara memberikan kekuasaan politik kepada masyarakat. Namun, kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan Partai Komunis. Undang-Undang tersebut memang menjamin hak-hak seperti kebebasan pers, kebebasan beragama, dan kebebasan berbicara, akan tetapi pada kenyataannya 23,6 juta masyarakat Korea di Korea Utara sangat dibatasi kebebasannya. Misalnya, seluruh siaran radio dan televisi dikontrol secara ketat oleh Komite Penyiaran Pusat Korea. Semua stasiun radio yang dimiliki swasta "diatur" menjadi frekuensi pemerintah. Berita-berita terkini sering kali disembunyikan dari khalayak umum atau bahkan diubah isinya. Masyarakat acapkali tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya. 

SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?

Sebelum tahun 1900-an, masyarakat Korea adalah masyarakat agrikultur dan memiliki hubungan kekeluargaan yang erat. Hampir semua orang tinggal di pedesaan kecil dan bekerja di sawah atau ladang. Tetapi semenjak akhir tahun 1940-an, pihak Komunis mulai menjadikannya negara industri. Saat ini, sebagian besar masyarakat perkotaan di Korea Utara bekerja di pabrik, sedangkan masyarakat pedesaan tetap bekerja di sawah atau ladang.

Perjodohan masih lazim terjadi di daerah pedesaan. Sekarang ini, jumlah masyarakat perkotaan yang memilih pasangan hidupnya sendiri terus bertambah. Selain itu, ikatan pernikahan dulunya sangat kuat sehingga jarang sekali terjadi perceraian -- bahkan perceraian tidak pernah terpikir di benak masyarakat. Namun saat ini, perceraian di antara masyarakat Korea yang berpendidikan dan tinggal di kawasan perkotaan terus meningkat. Hal ini menyebabkan perceraian tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.

Bagi masyarakat Korea, pendidikan bersifat wajib untuk sebelas tahun pertama (termasuk setahun masa prasekolah) dan tidak dipungut biaya. Dan juga, harus ada persetujuan dari Partai Komunis agar para murid dapat meneruskan pendidikan setelah tingkat ke-10. Selama liburan musim panas, para murid juga harus bekerja untuk negara.

Di Korea Utara, pemerintah mengontrol seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sebagian besar kesenian dan hiburan dibantu dan dikontrol oleh pemerintah. Bahkan cara seniman bekerja pun dibatasi. Pada intinya, segala hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Komunis dilarang oleh pemerintah.



Makanan utama masyarakat Korea adalah nasi dan terkadang dilengkapi dengan ikan, sayuran, atau buah. Makanan khasnya adalah kimchi, terbuat dari campuran kol, lobak putih, dan bermacam sayuran lainnya yang dibumbui rempah-rempah.

APA KEPERCAYAAN MEREKA?

Sebelumnya, gabungan dari paham Konfusius, Budhisme, dan perdukunan (kepercayaan pada dunia dewa yang tak kasat mata, roh-roh jahat, dan roh-roh leluhur) mendominasi kepercayaan masyarakat Korea. Tapi sejak tahun 1945, kepercayaan tersebut secara resmi dibatasi. Penguasa Korea Utara yang pertama, Kim Il-sung, sangat dihormati dan dipuja rakyatnya. Dia dianggap mahatahu dan mahahadir. Sama dengan penguasa yang lama, pemerintahan di bawah Kim Jong-il ini juga menindas rakyatnya. Bagaimanapun juga, sampai sekarang belum diketahui apakah masyarakat harus memuja penguasa yang baru ini.

Meskipun secara teknis kebebasan beragama dijamin oleh pemerintah Korea Utara, pada kenyatannya kegiatan beragama sangat ditekan.

Masyarakat Korea percaya bahwa roh anggota keluarga yang telah meninggal tetap tinggal dalam keluarga. Karena alasan inilah, keluarga berusaha untuk melahirkan seorang pewaris laki-laki agar dapat meneruskan garis keturunan. Dialah yang akan melakukan ritual leluhur dalam rumah tangga dan di tempat pekuburan keluarga.

APA SAJA KEBUTUHAN MEREKA? 

Setelah banjir bandang melanda Korea Utara, banyak daerah yang mengalami kekurangan pangan. Beberapa orang malahan terpaksa memakan rumput dan akar-akaran untuk bertahan hidup. Karena itulah, mereka harus diperkenalkan kepada Dia yang mampu mencukupi semua yang mereka butuhkan.

Secara politik, Korea Utara merupakan salah satu negara yang paling terkontrol di dunia. Pemerintah Korea secara resmi menentang kekristenan dan Injil di seluruh wilayahnya. Saat ini, masyarakat Korea Utara memerlukan kebebasan politik dan spiritual.
Sumber : Terjemahan dari http://www.joshuaproject.net/


Artikel Lainnya